The 1st Gadget's TV Magazine

Get it Free “Guyon Sexgar” on Your iPhone/iPod Touch

In Application, Buku Mobi on January 23, 2010 at 10:00 am

“DARI TIKUS SAMPAI GENTLEMAN”

Screenshot 2010.01.17 15.39.37Sebuah konferensi diselenggarakan di salah satu hotel terkenal di New York yang dihadiri oleh instruktur seks laki-laki dari berbagai negara di seluruh dunia. Untuk memeriahkan pertemuan, dan sebagai pemanas, sebuah pertanyaan dilontarkan di hari pembukaan. Setiap orang yang dapat memberikan jawaban, bakal disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Dari berbagai jawaban itu akan dipilih seorang pemenang. Pertanyaannya adalah, “Bagaimana Anda menggambarkan organ vital laki-laki?”

Semua orang kelihatan tertarik menyuarakan pendapat. Seorang warga negara Jepang berdiri dan berkata, “Di Jepang, organ laki-laki itu digambarkan seperti tikus. Soalnya, ia akan memasuki sebuah lubang!” (hadirin bertepuk tangan).

Kemudian diikuti seorang warga negara Cina, “Di Cina, digambarkan sebagai gosip, karena perginya dari mulut ke mulut!” (tepuk tangan lebih meriah terdengar).

“Seperti seorang serdadu,” kata seorang Negro, “karena keras sebelum pertempuran… lemas setelah pertempuran!” (kembali tepuk tangan menggema).

Konferensi ini juga diikuti oleh peserta dari Inggris, Irlandia, Scotlandia, dan peserta lain yang menerima sambutan sama.

Sampai kemudian seorang laki-laki tinggi dan berkulit putih, berjalan ke depan. Dan dengan lantang berkata, “Di Amerika, digambarkan sebagai gentleman. Sebab, ia akan berdiri ketika melihat wanita!” (hadirin bertepuk tangan lebih meriah, dan lebih keras dari sebelumnya).

Akhirnya, warga negara Amerika itulah yang menjadi pemenang dan menerima trofi kemenangan.

*****

Free App for Apple iPhone atau iPod Touch

Segarkan suasana hati Anda dengan membaca humor-humor cerdas karya Darminto M. Sudarmo. Anda dapat memperolehnya secara cuma-cuma alias gratis dengan mendownload ke Apple iPhone atau iPod Touch Anda.

*****

Tentang Penulis

DARMINTO M SUDARMO, dilahirkan di Kendal, Jawa Tengah, Indonesia, 23 Maret 1956. Sejak SMP kelas dua sudah aktif menggambar kartun, namun setelah kelas satu SMA, 1973, baru kartunnya dimuat di Majalah Panjebar Semangat, Surabaya. Sesudah itu ia makin aktif mengirim kartun ke berbagai media daerah maupun ibukota. Setidaknya ada tiga inisial yang sering dia pakai untuk menandai karya kartunnya; yaitu: Odios, Mas Dar dan Dar MS.

Selain aktif menggambar kartun, Darminto juga aktif menulis. Dari artikel, cerita pendek, puisi hingga laporan jurnalistik. Bahkan tulisan pertamanya yang bernuansa “dewasa” dimuat justru di Koran Mingguan berbahasa Jawa, Djoko Lodang. Jenis tulisannya artikel atau opini, berjudul antara lain: Maca (Membaca), Sikep yen Nampa Panacad utawa Kritik (Sikap Saat Menerima Teguran atau Kritik) dan lain-lain, padahal saat itu dia masih kelas satu SMA dan menulisnya pun dengan tulisan tangan. Untunglah redaksi Djoko Lodang memberi kesempatan kepada para penyumbang naskah dengan tulisan tangan asalkan ditulis dengan huruf kapital semua.

Sebuah keberuntungan baginya, dalam tiga tahun ia bersekolah di SMA di Semarang, ia mendapat kepercayaan Pemimpin Redaksi Mingguan Bina, sebuah koran milik Perhutani, terbit di Semarang, agar membantu mengisi mingguan tersebut dengan tulisan dan gambar. Meskipun honorarium yang diperolehnya tidak terlalu besar, namun sangat membantu kebutuhan pembiayaan sekolahnya, yang sudah tidak dibiayai orang tua dan hanya dibantu kakak lelakinya. Pada periode itu pula (1973-1976) gambar maupun tulisannya bermunculan di media Bandung dan ibukota seperti: Aktuil, Variasi, Yunior, Berita Yudha, Yudha Minggu, Simphoni, dan lain-lain.

Pada 1977, ia tidak melanjutkan kuliah tetapi bekerja di Joeni Batik Jakarta yang workshop-nya di Gadog, Bogor, sebagai desainer motif. Joeni Batik memang mengambil spesifikasi batik dengan desain modern dan tidak massal. Dikonsumsikan untuk butik. Sesuatu yang menyenangkan karena pada saat itu, ia banyak bersosialisasi dengan para model; seperti: Nani Sakri, Titi Qadarsih, dan wanita-wanita cantik lainnya, yang kesemuanya sangat kesengsem sama batik hasil karya dia dan kawan-kawannya, satu kru. Ya, lagipula, yang disebut kru di sanggar batik tersebut adalah laki-laki semua, he-he. Terang aja ada basa-badi seperti itu. Read more…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: